HIPNOSIS METODE QLP

Perpustakaan JIC / April 27, 2014

Sekarang ini, selain korban bencana, kelompok masyarakat yang rentan untuk mengalami stres adalah kelompok pelajar, bahkan sudah dimulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD). Stres di kalangan pelajar ini dikenal dengan istilah stres akademik.

Menurut Dian Sudiana, faktor-faktor yang menyebabkan stres akademik, di antaranya adalah : Pertama, aspek kognitif. Perkembangan kognitif remaja yang belum tercapai secara maksimal dapat memunculkan pemikiran- pemikiran yang negatif seperti : kebiasaan menunda, kelemahan dalam pengambilan keputusan, kecenderungan lupa atau lemahnya daya  ingat, kesulitan untuk berkonsentrasi, kehilangan harapan, berfikir negatif, berputus asa, menyalahkan diri sendiri, dan kebingungan.

Kedua, aspek jarak dan lingkungan sekolah.  Jarak yang jauh dengan tempat tinggal, dekat dengan pusat keramaian, sering terjebak kemacetan, dan rawan kejahatan, membuat pelajar menjadi stres .  Begitu pula kondisi  ruangan kelas  yang kurang memadai, seperti ruangan yang terlalu sempit, penerangan yang kurang baik, ruangan yang kotor, ventilasi yang kurang dan suasana yang gaduh dapat menyebabkan stres  pada  siswa.  Fasilitas  sekolah  yang  tidak  lengkap, seperti  tidak tersedianya  lapangan  untuk  bermain,  dapat  menimbulkan stres pada siswa karena dengan bermain dapat melepaskan ketegangan yang dialami selama dikelas. Kondisi kelengkapan sarana umum seperti WC, dan fasilitas lainnya dapat menyebabkan pelajar mengalami kesulitan saat berada di sekolah sehingga dapat memicu stres.

Ketiga, elemen sekolah, yaitu guru, suasana atau kondisi di dalam kelas, kurikulum, tugas-tugas sekolah, dan ulangan. Sifat pribadi guru yang dapat memicu stres pada muridnya, antara lain  kasar,  suka marah,  kurang senyum, suka membentak, sinis, atau sombong, acuh, dan tidak adil. Sifat pribadi guru yang demikian dapat menyebabkan  ketidak  nyamanan dan ketidakharmonisan  antara  guru dengan murid. Suasana atau kondisi di kelas yang  selalu diwarnai oleh kompetisi di antara murid juga menjadi faktor timbulnya stres. Bagi yang mampu mengelola stres, ia akan selalu terpacu dan terdorong oleh keadaan demikian, namun bagi murid yang kurang bisa  mengatasi keadaan tersebut maka akan menjadi  suatu  tekanan. Hubungan antar murid di kelas yang kurang hamonis dapat menimbulkan ketidaknyamanan. Misalnya   kekerasan,  saling  mengejek, suka mengganggu, pembuat onar, egois, sombong dan tidak adil. Kurikulum dan bahan pelajaran yang berstandar tinggi atau sulit, pemadatan materi, serta pelajaran tertentu seperti pelajaran eksakta, juga dapat menjadi sumber stres bagi pelajar.  Selain itu, tugas-tugas  yang  terlalu banyak dan juga  sulit, dapat memicu terjadinya stres di kalangan pelajar, hal tersebut disebabkan tuntutan yang dihadapinya tidak didukung oleh sumber  daya  yang dimilikinya. Selain itu, bagi kebanyakan pelajar, ulangan  menimbulkan ancaman kegagalan yang berusaha diatasi dengan belajar. Pada situasi ujian, sebagian  besar dari  mereka  lupa  atas  apa yang telah  mereka pelajari. Ketegangan dapat dijadikan salah satu alasannya karena pelajar cemas akan kegagalan dalam ujian. Juga kegiatan ekstrakulikuler yang  padat dan banyak  dapat  menjadi  sumber  stres.  Hal ini dikarenakan pelajar tidak memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat, melepaskan ketegangan fisik dan psikologisnya.

Khusus di DKI Jakarta, faktor utama stres akademik ini adalah aspek jarak dan waktu sekolah serta Ujian Nasional. Pada tahun 2012, hal ini sudah pernah dipersoalan oleh Forum Musyawarah Guru Jakarta (FMGJ) melalui ketuanya, Retno Listyarti, saat menghadap Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau yang akrab disapa Ahok. Menurut Retno, jam masuk sekolah seharusnya dikembalikan ke pukul 7 pagi karena yang berlangsung saat ini terlalu menguras tenaga dan otak siswa. Siswa tidak cukup tidur karena kurang dari enam jam. Sebanyak 67, 65 persen pelajar tidak cukup tidur. Mereka juga tidak sempat sarapan. Kondisi ini membuat pelajar stres yang berujung mental yang labil dan bisa menjadi penyebab awal munculnya tawuran. Toh, kebijakan untuk mengurangi kemacetan dengan mengorbankan para pelajar ini juga belum berakhir. Kemacetan tetap saja terjadi.  Namun hampir dua tahun, usulan FMGJ sampai hari ini ternyata belum dapat direalisasikan. Sedangkan untuk Ujian Nasional, walau sudah ada desakan dari semua pihak dengan berbagai cara, tapi belum ada tanda-tanda pada tahun 2014 ini ujian nasional akan dihapuskan.

Maka, sambil menunggu realisasi pengembalian jam belajar ke jam 7 pagi dan penghapusan Ujian Nasional, cara terbaik yang harus dilakukan adalah para guru harus memiliki keahlian untuk mengurangi stres di kalangan muridnya. Dari pada harus menyaksikan murid-muridnya  stres di depan mata, terlebih saat menghadapi Ujian Nasional dan saat Ujian Nasional diumumkan. Salah satu keahlian tersebut adalah keahlian hipnosis.

Masyarakat Indonesia tentu sudah akrab dengan hipnosis, terlebih tengah gencar-gencarnya ditayangkan di beberbagai stasiun tv swasta untuk kepentingan hiburan. Kebanyakan orang menyebut hipnosis dengan hipnotis. Padahal, ini sebutkan yang keliru karena  hipnotis adalah orangnya yang melakukan hipnosis.

Hipnosis sendiri berasal dari kata hypnos. Dalam kisah Yunani Kuno, ada Dewa Tidur bernama “Hypnos”. Dari dialah muncul inspirasi bahwa ketika melihat seseorang yang tidur namun sangat sugestif terhadap saran-saran yang diberikan, maka ia disebut tidur hypnos. Jadi hipnotis itu secara sederhana adalah sebuah kondisi yang mirip tidur dimana alam bawah sadar lebih mengambil peranan dan alam sadar berkurang peranannya. Pada kondisi ini seseorang akan menjadi sangat sugestible (mudah diberikan instruksi/saran).

Sudah puluhan tahun hipnosis telah teruji mampu menghilangkan stres. Berbagai varian dari ilmu ini juga telah dikembangkan untuk berbagai segmen dan keperluan. Jakarta Islamic Centre (JIC) sebagai Pusat Pengkajian dan Pengembangan Islam Jakarta sejak tahun 2011 juga sudah melakukan serangkaian kajian dan eksperimen tentang hipnosis ini dengan pendekatan QLP (Qalbu Linguistic Programming). Hasilnya, JIC memiliki ilmu hipnosis yang Islami, dari aspek ontologi, epistimologi dan aksiologinya, yang berbeda dengan hipnosis konvensional. Hipnosis pendekatan QLP ini selain dapat mengubah dan  membentuk karakter serta meningkatkan prestasi dan kinerja, juga dapat memperkuat ketauhidan orang yang menjadi obyek hipnosisnya.

Akhir kalam, untuk membekali para guru dengan keahlian hipnosis pendekatan QLP, maka JIC pada hari Ahad, 9 Maret 2014 dari jam 08.00 s.d 15.00 WIB bertempat di Ruang Mualim KH. M. Syafi`i Hadzami (Audio Visual JIC), Jl. Kramat Jaya, Koja, Jakarta Utara akan mengadakan “Diklat Hipnosis Bagi Para Guru untuk Peningkatan Prestasi Belajar Peserta Didik dengan Pendekatan QLP”. Narasumber atau instrukturnya adalah  Rohdian Al-Ahad yang telah berpengalaman sebagai instruktur hipnosis untuk pembelajaran (Hypnoteaching). Bagi yang berminat mengikuti acara ini dapat menghubungi panitia di nomor telepon 085693821958 atau 085693806000 dengan syarat dan ketentuan berlaku. ***

Oleh: Rakhmad Zailani Kiki (Kepala Bidang Pengkajian dan Pendidikan JIC)

Related Post



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *