WISATA RELIGI DI EKS LOKALISASI

Perpustakaan JIC / May 7, 2014

Siapa yang tak kenal dengan bangunan megah Jakarta Islamic Center (JIC) yang terletak di Jalan Kramat Jaya, Koja, Jakarta Utara. Bangunan megah yang juga dijadikan sebagai pusat pendidikan agama Islam itu telah menjelma menjadi kebanggaan warga sekitar dan warga Jakarta pada umumnya.

BANGUNAN megah itu dipastikan akan mengundang decak kagum bagi yang melihat atau mengunjunginya. Selain sebagai pusat pendidikan agama Islam, JIC juga menawarkan potensi wisata religi yang berada di wilayah Jakarta Utara. JIC termasuk dalam program 12 destinasi wisata pesisir yang menjadi andalan Pemkot Administrasi Jakarta Utara di bidang pariwisata.

Namun, mungkin belum banyak yang tahu, jika sebelumnya lokasi wisata yang kini menjadi pusat pendidikan dah peribadatan umat Islam itu, dulunya dikenal sebagai wilayah hitam yang menyajikan salah satu kawasan bisnis esek-esek di ibu kota. Kawasan JIC dahulunya lebih dikenal sebagai tempat wisata malam, Kramat Tunggak. Kawasan prostitusi ini, di era 1970-an dan 1980-an sangat populer.

Sejarah mencatat, tak hanya bisnis esek-esek saja yang menggeliat di kawasan ini, bisnis perjudian pun cukup marak meramaikan kawasan ini. Pada masa kepemimpinan Ali Sadikin sebagai Gubernur DKI Jakarta, kawasan ini sempat dilegalkan dan bertujuan mengatasi penyebaran bisnis prostitusi dan judi di Jakarta.

Ahmad Sartono (56), tokoh masyarakat Jalan Keramat Jaya, Koja, mengaku, awalnya ia tak pernah membayangkan jika kawasan lokalisasi itu, kini telah berubah menjadi pusat pendidikan dan sarana pelibatan umat muslim termegah di Jakarta. Padahal, masih terngiang dalam ingatannya, 15 tahun lalu, kawasan ini cukup marak dengan aktifitas para wanita pekerja seks komersil (PSK).

“Dulu, sekitar akhir 1970 hingga akhir 1990-an kawasan ini dikenal masyarakat luas sebagai daerah Kramat Tunggak, dan menjadi kawasan protitusi, tetapi upaya pemerintah membersihkan kawasan ini mulai terealisasi pada awal 2000. Saat itu, Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso berhasil mengubah imej buruk daerah Koja,” ujar Sartono kepada beritajakarta.com.

Sejak saat itu, lanjutnya, lokasi bangunan JIC berdiri di tengah pemukiman pendudukyang padat. Imej sebagai kawasan hitam di Jakarta Utara pun mulai berangsur-angsur hilang. Selain itu, yang tak kalah penting juga, daerah kumuh pun berganti menjadi tempat yang indah dan nyaman.

Saat ini, JIC dijadikan salah satu simpul pusat peradaban Islam termegah di Jakarta dan Indonesia secara umum, dengan beberapa fasilitas penunjang antara lain, tempat ibadah yang megah, gedung pertemuan, perpustakaan yang menyediakan buku-buku dan referensi mengenai perkembangan Islam dan fasilitas penunjang lainnya.

Pusat pendidikan Islam

Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta, Syamsul Maarif mengatakan, pembangunan JIC di bekas kawasan lokalisasi Kramat Tunggak, merupakan gebrakan luar biasa yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta saat dipimpin Gubernur DKI Jakarta waktu itu, Sutiyoso.

“Ini suatu langkah yang berani yang ditunjukan pemerintah untuk menciptakan sebuah terobosan baru dalam membangun pusat keagamaan, yakni agama Islam di Jakarta. Terlebih penduduk Jakarta mayoritas beragama Islam,” kata Syamsul.

Ditambahkan Syamsul, keberadaan Jakarta Islamic Center saat ini, tak hanya menjadi pusat peribadatan umat Islam saja tetapi lebih dari itu, banyak kegiatan-kegiatan berupa pembinaan ataupun pengembangan umat Islam baik dalam konteks keilmuan maupun peradaban Islam. “Bisa dibilangjakarta Islamic Center saat ini sebagai pusat pendidikan Islam terbesar di Jakarta,” terang Syamsul.

Dirinya berharap, Pemprv DKI Jakarta, ke depan terus melakukan terobosan-terobosan yang bersifat untuk memajukan warga, khususnya umat Islam di DKI Jakarta. “Tapi harus didasari rasa kemanusiaan dalam mencari solusi mengatasi persoalan,” tandasnya. (sa/bataviase.co.id)

Related Post



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *